Selasa, 01 November 2016

Untukmu sipengisi hati

Diamku bukan berarti tak ingin menyapa. Cuekku bukan berarti aku benci. Aku hanya tak ingin kita berkelahi hebat lagi.

Biarlah aku diam sampai mungkin hatimu reda dengan yang terjadi.

Aku hanya ingin menjalin silaturrahmi. Aku hanya tak ingin membuat luka di dada karena dulu kita pernah saling mencinta.

Aku sudah mengikhlaskan engkau yang dulu kekasihku. Kau memutuskan sama siapa itu terserah padamu. Karena yang punya jiwa adalah engkau.

Jangan kau cemaskan aku. Bukannya aku tak ingin mencari penganti tapi aku hanya ingin menata hatiku dulu. Memantaskan diriku dulu untuk orang yang pantas juga. Karena cinta itu butuh proses untuk menyingahi hati bukan laksana batu yang turun dari langit.

Mungkin cintamu sudah mengebu padanya karena kau sering mengupdate dia di jejaring sosialmu.  Semoga dia tak hanya jadi pelarian saja olehmu. Jika kau tak bisa untuk berkomitmen ku sarankan kau tuk menata hidup dan hatimu. Cukup diriku saja yang merasakannya.

Tak apa akupun tak ingin merusak hubungamu dengan yang baru. Dan aku tak ada juga ada niat untuk merusak kalian. Karena itu bukan tipeku.

Aku yakin pada yang maha kuasa karena sekuat apapun aku mempertahankanmu jika kau bukan jodoh kau tak akan untukku.

Dan aku yakin Allah telah mempersiapkan jodoh untukku. Mungkin hari ini belum saatnya tapi aku akan tetap bersabar sampai wAktu itu datang.

Walaupun cinta kita mengoreskan luka tapi tak apa aku pernah merasakan cinta bersamamu. Dan aku pernah di hatimu dan sebaliknya.

Dan aku sekarang sadar ada ketika kita meninggalkan dan ada kalanya kita meninggalkan. Itulah cinta, tak tahu akhir seperti apa.

Dan sekarang aku mengharap akan ada lelaki yang bersedia menerima egoku segala kekuranganku. Karena yang aku butuhkan adalah pemimpin rumah tangga.

Semenjak kepergian dirimu, aku memang sendiri dan bisa berjalan sendiri dan hidup akan berjalan terus. Tapi ada satu sisi yang kosong ketika aku semdiri. Mungkin posisi itu belum di gantikan oleh orang yang baru. Sisi itu adalah hati. Hatiku telah kau bawa jauh bersamamu. Dan mungkin lambat laun hati itu akan memudar dan tak ada lahi.

Untukmu yang pernah mengisi hatiku terima kasih karena kau telah mengajarkanku tentang kesabaran, kesedihan bahkan rasa sayang dan takut kehilangan. Dan aku sadar hanya kepada Tuhan pencipta alam lah aku berharap bukan kepadamu yang hanya manusia biasa. Karena Tuhanlah pembolah. Balik hati manusia.

Tidak ada komentar: