Diamku bukan berarti tak ingin menyapa. Cuekku bukan berarti aku benci. Aku hanya tak ingin kita berkelahi hebat lagi.
Biarlah aku diam sampai mungkin hatimu reda dengan yang terjadi.
Aku hanya ingin menjalin silaturrahmi. Aku hanya tak ingin membuat luka di dada karena dulu kita pernah saling mencinta.
Aku sudah mengikhlaskan engkau yang dulu kekasihku. Kau memutuskan sama siapa itu terserah padamu. Karena yang punya jiwa adalah engkau.
Jangan kau cemaskan aku. Bukannya aku tak ingin mencari penganti tapi aku hanya ingin menata hatiku dulu. Memantaskan diriku dulu untuk orang yang pantas juga. Karena cinta itu butuh proses untuk menyingahi hati bukan laksana batu yang turun dari langit.
Mungkin cintamu sudah mengebu padanya karena kau sering mengupdate dia di jejaring sosialmu. Sedangkan bersama diriku kita adalah orang yang cuek.
Tak apa akupun tak ingin merusak hubungamu dengan yang baru. Dan aku tak ada juga ada niat untuk merusak kalian. Karena itu bukan tipeku.
Aku yakin pada yang maha kuasa karena sekuat apapun aku mempertahankanmu jika kau bukan jodoh kau tak akan untukku.
Dan aku yakin Allah telah mempersiapkan jodoh untukku. Mungkin hari ini belum saatnya tapi aku akan tetp bersabar sampai wKtu itu datang.
Walaupun cinta kita mengoreskan luka tapi tak apa aku pernah merasakan cinta bersamamu. Dan aku pernah di hatimu dan sebaliknya.
Dan aku sekarang sadar ada ketika kita meninggalkan dan ada kalanya kita meninggalkan. Itulah cinta, tak tahu akhir seperti apa.
Dan sekarang aku mengharap akan ada lelaki yang bersedia menerima egoku segala kekuranganku. Karena yang aku butuhkan adalah pemimpin rumah tangga.
Untukmu yang pernah mengisi hatiku terima kasih karena kau telah mengajarkanku tentang kesabaran, kesedihan bahkan rasa sayang dan takut kehilangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar